Showing posts with label Tips Gaya Hidup Dan Rekayasa Sosial. Show all posts
Showing posts with label Tips Gaya Hidup Dan Rekayasa Sosial. Show all posts

Wednesday, November 21, 2018

Sekolah Untuk Pengusaha Dan Untuk Buruh Swasta Memangnya Beda ?

Siapa bilang berbeda ?

Para pengusaha dikala bersekolah juga melewati jenjang sekolah yang umum.
Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama, Sekolah Menengah Atas, gres kuliah di Universitas, baik itu S-1 ataupun S-2.
Para karyawan swasta ( baca : buruh ) juga sama. Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama, Sekolah Menengah Atas, dan ada yang sebagian kuliah di Universitas, S-1 bahkan ada juga yang hingga ke S-2.

Memang para pengusaha – kalau diprosentase – rata-rata mengenyam pendidikan yang lebih tinggi bila dibandingkan dengan pendidikan yang dienyam para buruh.
Namun tidak sedikit para pengusaha yang hanya berbekal pendidikan SD.
Dan sebaliknya tidak sedikit pula para buruh yang berhasil mengenyam pendidikan tinggi hingga sarjana, bahkan S-2.
Sekolah untuk pengusaha ?
Kredit picture : m-edukasi.web.id

Jika yang berbeda nama sekolahannya mungkin iya.

Jadi siapa bilang sekolahan antara pengusaha dan para buruh berbeda ?

Bahkan ada juga yang sama-sama mengenyam pendidikan di sekolahan yang sama SD, SMP, hingga Sekolah Menengan Atas , toh pada akhirnya, yang satu sanggup menjadi pengusaha, yang satu “hanya” menjadi buruh swasta.
Siapa bilang berbeda ?

Sekolah untuk buruh ?
Kredit picture : Excat2manza.blogspot
Mau bukti ?

Jika mau sedikit jeli, buktinya bersama-sama malah sudah terpampang di setiap tahunnya.
Tahu maksud saya ?

Di negeri ini setiap tahunnya biasanya akan terjadi atau dilakukan adaptasi ( meskipun seringnya tidak pernah sesuai ) honor buruh.
Maka dari hal itu pula di setiap tahunnya selalu dilakukan perhitungan, berapa prosentase dan atau jumlah kenaikan honor buruh yang akan ditetapkan untuk tahun yang bersangkutan.
Para ( perwakilan ) pengusaha akan menghitung prosentase dan jumlah kenaikan honor yang “harus” diberikan kepada buruh.
Sebaliknya, para ( perwakilan ) buruh juga akan menghitung berapa prosentase dan jumlah kenaikan honor yang “seharusnya” mereka terima.

Dan – konon - berdasarkan aturan, dasar yang dipergunakan untuk menghitung kenaikan honor ini – yaitu standard kelayakan hidup atau standard hidup yang layak – semestinya sama.
Namun apa yang terjadi ?

Dari pengamatan dan pengalamam selama berpuluh-puluh tahun sebagai buruh, FAKTANYA, hasil perhitungan yang didapat antara pengusaha dan buruh, tidak pernah sekalipun sama.

Bahkan sedikit mirip-pun tidak.
Padahal keduanya sama-sama melaksanakan perhitungan dengan dasar yang ( semestinya ) sama .

Hasil perhitungan yang didapat oleh buruh selalu lebih tinggi dari hasil perhitungan yang didapat oleh para pengusaha. Padahal – sekali lagi – dasar yang dipakai ( semestinya ) sama.
Jika perbedaan hasil perhitungan ini terjadi sekali dua kali, mungkin masih maklum dan sanggup diterima.
Sebab sanggup jadi ada salah satu pihak yang kebetulan “salah” dalam menghitung.
Tetapi nyatanya perbedaan hasil perhitungan kenaikan honor ini niscaya terjadi di setiap tahunnya.
Sedangkan masing-masing pihak menyatakan bahwa hasil perhitungan mereka “tidak ada yang salah”.

Kaprikornus apa lagi yang mau dibantah ?

Jika antara pengusaha dan buruh sekolahnya sama, sanggup dipastikan, hasil perhitungan honor dan atau honor untuk standard hidup layak yang mereka sanggup juga sama. Sebab ilmu berhitung seharusnya menawarkan hasil yang sama, alasannya berhitung ialah “exact” pasti. Namun lantaran sekolah antara keduanya – pengusaha dan buruh – tampaknya berbeda, maka hasil perhitungan mereka juga berbeda.

Seperti yang terjadi di setiap tahunnya.
Jadi,….harap maklum saja.

Atau mau tahu yang lebih "ngeri" lagi, menyerupai yang dibawah ini :
> Turut Berduka Cita, Atas masih adanya honor buruh yang minus di jaman Indonesia merdeka

Sumber http://anekacarapraktis.blogspot.com

Tuesday, November 20, 2018

Turut Berduka Cita. Honor Buruh Minus Di Jaman Indonesia Merdeka

Turut Berduka Cita. Honor Buruh Minus Di Jaman Indonesia Merdeka

Pada tanggal-tanggal di hari terakhir bulan dan di awal tahun mirip ini, seharusnya menjadi waktu yang sempurna ( meski sesaat ) bagi para buruh untuk bergembira.
Mengapa ?
Sebab pada umumnya pada final bulan – meskipun tanggalnya berbeda-beda – para buruh akan mendapatkan gajinya sehabis bekerja memeras keringat, membanting tulang selama satu bulan di belakangnya.

###
Kaprikornus kalau dipikir-pikir, buruh itu bekerjsama sangat “keren” dan dermawan.
Bayangkan saja, meski hidup serba terbatas ( aib kalau disebut kurang atau miskin ), mereka tetap saja masih mau - “ngutangi” – membiayai para pengusaha selama satu bulan. Ketika para pengusaha sudah sanggup menjalankan roda perjuangan dan mendapatkan laba usahanya, para buruh gres diberikan bayarannya. Namun ketika pengusaha sedang tekor, para buruhpun “rela” gajinya dibayar terlambat. Keren tidak ..?
###

Namun di saat-saat dimana seharusnya para buruh bergembira, fakta , kenyataan hidup, terkadang berbicara lain.

Memang, sebagian besar buruh akan merasa bergembira ketika datang hari gajian mirip ini. Meski hal ini biasanya hanya sesaat.
Ada yang biasa-biasa saja.
Namun ada juga yang malah tertunduk lesu – justru – ketika datang hari gajian.

Sebab, fakta, kenyataan hidup, seringkali berbeda dengan harapan.
Ini – tentu saja – bukan bermaksud untuk “ngresulo”, mengeluh dan menyesali nasib.
Sebab kata ustad, apapun, berapapun yang diterima, jumlah itu tetap patut disyukuri.
Sebab kata ustad pula, barang siapa yang bersyukur, maka Allah akan menambahkan karunia-Nya.
Sebab memang demikian halnya.
Yang namanya kategori “cukup” yakni “sawang sinawang”, sangat relatif sangat subyektif.
Sesedikit apapun, kalau diterima dengan tulus dan disyukuri, maka jumlah itu akan menjadi cukup. Sebanyak apapun, kalau “kemrungsung “ dan loba, maka jumlah itu masih saja tetap kurang.
Dan konon - kata ustad – gres merasa cukup ketika mulutnya sudah disumpal dengan tanah ( kuburan ).

Hanya saja, realita hidup memang “menuntut” banyak hal.

Terlepas dari jumlah kenaikan honor tahunan yang di luar impian untuk sanggup hidup “lebih layak”, yang lebih memprihatinkan lagi yakni kalau memperhatikan wajah-wajah rekan buruh yang tertunduk lesu.

Mengapa mereka ? Sakit perut ?
Bukan.

Mereka sedang sakit kepala. Alias pusing, alias “mumet”.
Sebab ketika rekan buruh membuka amplop gajiannya, didapatinya sebuah angka yang sangat menyesakkan dada.
Terpampang begitu terang – kalau boleh diibaratkan, bagaikan sebuah palu godam yang teramat besar sedang dihantamkan ke kapala – tertera, honor yang mereka terima ternyata malah MINUS.

KOK BISA ??????????

Yang namanya orang bekerja, seharusnya kan dibayar, mendapatkan uang. Bukannya membayar, mengeluarkan uang.
Kok sanggup gajinya minus ??

Mungkin rekan buruh itu sedang terkena denda perusahaan ?
Bukan !
Atau jangan-jangan, rekan buruh itu suka foya-foya, menghamburkan uang, sehingga banyak hutangnya pada perusahaan ?
Tidak juga !
Terus… gajinya kok sanggup minus ???

Jika ditelusuri, dilema honor minus tersebut bekerjsama lebih disebabkan oleh dilema teknis dalam hal sistem manajemen panggajian.

Kira-kira mirip ini :

● Ada beberapa perusahaan yang membayarkan honor karyawannya dalam 2 tahapan.
Tahapan pertama pembayaran honor pokok atau sesuai UMR.
Kemudian tunjangan dan lainnya gres dibayarkan pada tahap kedua setelahnya.

● Umumnya pula, untuk memacu ketidakhadiran karyawannnya, perusahaan akan menunjukkan “premi hadir”.
Jika karyawan masuk penuh selama 1 bulan, premi hadir akan diberikan. Namun ketika karyawan tidak masuk bekerja maka premi hadir akan terpotong atau bahkan hilang sama sekali.

● Karena itulah ketika karyawan kebetulan tidak masuk bekerja atau cuti yang tidak ditanggung perusahaan, maka karyawan akan dikenakan pemotongan gaji.
Dalam hal ini termasuk premi hadirnya. Karena itulah jumlah potongan honor yang harus ditanggung “seolah-olah” lebih besar daripada jumlah honor yang diterima, kalau diurai menjadi komponen honor harian. Karena potongan honor yang ditanggung = jumlah honor /upah harian ( sesuai UMR ) ditambah dengan potongan premi hadir.

● Maka dilema honor minus akan terjadi pada karyawan yang mempunyai honor /upah yang hanya senilai UMR atau lebih sedikit, dan kebetulan ia tidak masuk kerja – terutama di ketika mendekati tanggal-tanggal terakhir di final bulan – sehingga ia harus terkena potongan gaji.
Karena gaji/upah yang senilai dengan UMR atau lebih sedikit telah dibayarkan pada pembayaran tahap pertama, maka pada pembahayaran tahap kedua, sisa honor yang mungkinmasih ada harus dikurang dengan potongan gaji. Dan ketika sisanya lebih kecil daripada jumlah potongan gaji, maka jadilah.
Karyawan akan mendapatkan honor minus.
Kaprikornus kurang lebihnya mirip itu.

Namun dari situ terlihat juga, betapa lemahnya sistem penggajian buruh di negeri tercinta yang katanya sudah merdeka lebih dari 69 tahun ini.
Sehingga masih saja ada honor buruh yang begitu “mepet” sehingga hingga minus.
Meski mirip kata ustad tadi, apapun hal itu harus tetap untuk diterima dan disyukuri.

Namun kali ini, kami mengucapkan :

TURUT BERDUKA CITA
ATAS MASIH ADANYA GAJI BURUH YANG MINUS
Di JAMAN YANG MERDEKA SEPERTI INI…

Ngomong-ngmong, mau tahu apa salah satu pemicunya, mengapa hingga terjadi honor minus mirip ini ? Coba lihat yang di bawah ini :

Sumber http://anekacarapraktis.blogspot.com

Monday, November 12, 2018

Pelayanan Bpjs Lamban, Apakah Kasus “Suap Dokter” Dapat Terjadi Di Bpjs ?

Pelayanan Bpjs Lamban, Apakah Kasus “Suap Dokter” Dapat Terjadi Di Bpjs ?

Sejak diluncurkan secara resmi pada tahun lalu, jadwal BPJS menerima balasan yang sangat positif dari masyarakat. Dari hari ke hari, semkain banyak masyarakat yang tergugah untuk mendaftar dan ikut jadwal yang dirasa sangat bermanfaat ini.
Terlebih lagi, perusahaan-perusahaan juga diwajibkan untuk mengikuti jadwal ini bagi karyawannya.
Lihat juga :

Pemerintah memang terlihat sangat serius dalam menangani jadwal ini. Karena dengan jadwal BPJS ini, pemerintah ingin mengentaskan masayarakat dari keterbatasan pelayanan kesehatan. Dan alasannya ialah itu pula, jadwal BJPS ditargetkan sanggup dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat Indonesia nantinya.
Dengan kata yang sederhana, dibutuhkan seluruh lapisan masyarakat Indonesia sanggup mendapatkan dan menikmati “subsidi kesehatan” .
Sehingga, tentu saja jadwal BPJS ini sanggup berjalan lancar nantinya. Dan tidak hanya pemerintah, masyarakat luas juga memiiki impian yang sama.

Hanya saja, tiba-tiba ada sebuah pertanyaan yang cukup menggelitik wacana problem BPJS ini.

Ketika Program BPJS Telah Berjalan Lancar, Akan Terjadi Kasus “Suap Dokter” ?

Mengapa hingga timbul pertanyaan menyerupai ini ?

Melihat, berkaca dan berguru dari Vietnam.
Di Negara Vietnam, menyerupai dengan BPJS, pelayanan perawatan medis kepada masyarakat kebanyakan disubsidi oleh pemerintah dengan sebuah sistem asuransi gratis, untuk pegawai negeri, anak-anak, atau dibayar oleh majikan.

Namun alasannya ialah jadwal subsidi kesehatan ini pula, pada hasilnya terjadilah antrean yang panjang ketika masyarakat ingin mendapatkan pelayanan kesehatan.
Sebab ketika jadwal ini telah berjalan merata, rumah-sakit rumah sakit ( umum ) yang melayani jadwal ini menjadi penuh, kelebihan pasien.
Di satu sisi, honor untuk profesi medis dirasa tetap cukup rendah. Ditambah lagi dengan adanya sentimen kapitalis tinggi yang bertemu dengan nilai-nilai Confusius.

Maka praktek-praktek “menyelipkan amplop” yang berisi uang ( suap ) untuk memastikan mendapatkan pelayanan yang lebih cepat atau lebih baik menjadi sebuah hal yang umum.
Bahkan termasuk, ketika pasien akan meninggalkan rumah sakit ( dikarenakan telah sembuh ), mereka juga akan meninggalkan “amplop dokter”, biar rekomendasi untuknya sanggup segera dikeluarkan.

Menurut sebuah penelitian, “kasus suap dokter’ ini meningkat sangat tajam dari angka 13% menjadi 29%, hanya dalam kurun waktu 3 tahun.

Bahkan alasannya ialah begitu mewabahnya “kasus suap dokter” di Vietnam ini, lima rumah sakit di Hanoi meluncurkan sebuah kampanye untuk meningkatkan sikap etis di kalangan staf.

Dengan kebijakan "Katakan tidak kepada amplop."

Pusat Riset dan Pelatihan untuk Pengembangan Komunitas (RTCDD) juga melaksanakan kampanye serupa untuk mengubah persepsi pembayaran informal, memakai media untuk meningkatkan kesadaran akan hak-hak mereka dan kiprah dokter.

Sehingga pertanyaan lagi, Ketika Program BPJS Telah Berjalan Lancar, Akan Terjadi Kasus “Suap Dokter” ?

Seperti yang terjadi di Vietnam ?
Jawabannya, sanggup “iya”, sanggup juga “tidak”.
( Dan semoga saja tidak ).

Namun melihat kenyataan yang terjadi pada ketika ini, dimana ada beberapa rumah sakit yang melayani jadwal BPJS, yang belum-belum sudah dipenuhi dengan antrian pasien, dan sudah timbul cukup banyak keluhan-keluhan wacana “leletnya” rumah sakit yang melayani jadwal BPJS, pertanyaan dan kekhawatiran menyerupai yang terjadi di Vietnam, tidak tidak mungkin sanggup terjadi.
Sedangkan semua hal sanggup saja terjadi.
Siapa tahu, waktu yang akan menjawabnya.
Disarankan menyimak juga yang di bawah ini :

Sumber http://anekacarapraktis.blogspot.com

Wednesday, November 7, 2018

Inilah Yang Terlibat Dalam Terbitan Kartun Nabi

Sebagaimana diketahui, beberapa waktu lalu, majalah satir Perancis , Charlie Hebdo dalam salah satu edisinya telah menerbitkan karikatur yang menghebohkan dan dianggap telah menghujat umat Islam.
Gambar karikatur halaman utama tersebut dimuat oleh banyak sekali media di Prancis.
Dan ( tentu ) juga banyak sekali media barat lainnya. Harian Washington Post, Frankfurter Allgemeine (Jerman), Corriere della Sera (Italia), dan Guardian (Inggris) juga memuat gambar kartun tersebut.
Hanya beberapa media di Timur Tengah dan Afrika Utara yang memuat gambar itu.

Karena edisi heboh tersebut, terbitan Charlie Hebdo yang biasanya hanya dicetak sebanyak sekitar 60.000 kopi, ketika itu bahkan hingga dicetak hingga hampir 3.000.000 eksemplar.
Namun alasannya yakni terbitan itu pula, sepuluh wartawan Charlie Hebdo termasuk pemred-nya ( pemimpin redaksinya ) menerima serangan bersenjata.
Dunia Islam sendiri pada umumnya menganggap bahwa karikatur terbitan Charlie Hebdo merupakan sebuah provokasi.Termasuk otoritas Islam di Mesir menyebutkan sebagai "provokasi yang tidak sanggup diterima".

“Nekatnya”, para wartawan Charlie Hebdo lainnya, malah memutuskan memasang gambar Nabi Muhammad menangis dan memegang poster yang berbunyi "Je suis Charlie" ("Saya yakni Charlie").
Di atas gambar ini ada goresan pena yang berbunyi "semuanya dimaafkan".
Dan sejumlah forum pemberitaan di dunia, termasuk BBC, memutuskan untuk memasang ulang kartun ( hujatan ) tersebut.

Dan Inilah Awak Redaksi Charlie Hebdo Yang Terlibat Dalam Terbitan Karikatur Yang Menghebohkan tersebut :



Lihat juga :

Sumber http://anekacarapraktis.blogspot.com

Saturday, October 6, 2018

Bukti Kehebatan Daun Kelor, Begal Kebal Pelurupun Menangis Minta Ampun

Bukti Kehebatan Daun Kelor, Begal Kebal Pelurupun Menangis Minta Ampun

Meski selama ini sering dianggap sebagai mitos, nenek moyang kita – orang-orang jaman dulu punya anggapan bahwa daun kelor mempunyai khasiat yang lebih. Yang paling populer ialah daun kelor ini sangat ampuh untuk menetralisir atau bahkan melumpuhkan ilmu-ilmu ghaib yang dimiliki seseorang.

Dan percaya atau tidak percaya, kehebatan daun kelor ini sekali lagi telah dibuktikan pada pada begal-begal yang beraksi remaja ini.

Sebagaimana diketahui, akhir-akhir ini masyarakat diteror dengan aksi-aksi pembegalan – terutama begal sepeda motor – yang seperti makin menjadi-jadi.
Tidak hanya terjadi di wilayah ibukota saja, namun agresi pembegalan sekarang malah sudah merambah ke aneka macam kawasan lainnya.
Dan yang sering membikin pusing pegawapemerintah keamanan, selaian ganas dan tidak pandang bulu selama menjalankan aksinya, para begal ini ternyata juga sakti.
Banyak diantara mereka yang bahkan mempunyai ilmu kebal peluru atau dapat “menghilang”. Yang dijaman modern mirip ini seringkali dianggap sebagai sebuah mitos belaka.

Karena itulah fenomena “aneh tapi nyata”, begal yang arif tahan peluru atau dapat menghilang ini bahkan sempat dibahas secara khusus dalam tayangan program talk show di sebuah stasiun televisi swasta.
Bahkan waktu itu sempat juga terekam kamera, agresi seorang begal yang berhasil menghilang di dikala digerebek oleh petugas, meski waktu itu terang terlihat begal tersebut berada dalam posisi yang terjepit dan tampaknya mustahil meloloskan diri.

Dan kali ini fenomena begal sakti – yang kebal dari timah panas ini kembali terjadi di kawasan Serpong. Adalah dua orang begal yang sudah menjadi sasaran operasi pihak kepolisian. Sebab keduanya sudah merajalela melaksanakan pembegelan di aneka macam wilayah Jakarta, mirip di wilayah Jakarta Barat, Kalideres, Cengkareng, Serpong, dan Kota Tangerang Selatan.

Namun, sempat menciptakan tim Buser kerepotan. Sebab, ketika keduanya disergap tim Buser di Kampung Saketi, dua pembegal ini malah mencoba melarikan diri menuju ke arah hutan.
Karena itulah Polisi kemudian mengarahkan tembakan kepada pecahan kaki, dengan maksud supaya kedua pelaku tidak dapat kabur.
Namun, ternyata peluru yang dimuntahkan dari senjata Tim buser berefek apa-apa.
Timah panas tersebut tidak berhasil menembus kaki pelaku. Kedua pembegal ternyata kebal peluru. Ditembak ngakak, dibacok “mbegogok”, ibaratnya.
( Mbegogok bahasa Jawa, dalam bahasa Indonesia berarti tidak bergeming )
Dan ternyata ilmu kebal ini menjadi andalan ketika kedua pembegal ini melaksanakan aksinya.

Namun tidak ada kata pantang mengalah bagi Polisi. Tim Buser tetap memburu mereka hingga ke dalam hutan. Untung, mungkin teringat dengan nasehat para orang tua, yang meyakini bahwa batang daun kelor ampuh untuk menaklukkan ilmu kadigdayan semacam ini, salah satu tim Buser kemudian memetik batang daun kelor dikala melaksanakan pengejaran.

Dan ketika Polisi berhasil menyusulnya, benar saja, ketika anggota Tim Buser tersebut kemudian menunjukkan daun kelor yang berhasil dipetiknya, kedua pelaku begal pribadi menangis sejadi-sejadinya, minta ampun di dalam hutan,

Bukannya takut akan ditembak lagi, melainkan takut kalau batang daun kelor tersebut dipukulkan ke tubuhnya.

Dan jadinya dengan cukup mudah kedua begal sakti tersebut dibekuk oleh Tim Buser dan kemudian digelandang untuk dijebloskan ke dalam sel tahanan. Dan akhir perbuatannya, kedua begal sakti kebal peluru yang berjulukan Entis dan Dede ini dijerat dengan Pasal 365 kitab undang-undang hukum pidana dengan bahaya penjara di atas lima tahun. Sebab ternyata telah melaksanakan agresi pembegalan motor berkali-kali, termasuk agresi pembegalan sebanyak sembilan kali, hanya di kawasan Tengsel.

Yang di bawah ini tak kalah menariknya :

Sumber http://anekacarapraktis.blogspot.com

Thursday, October 4, 2018

Orang Yang Menyerupai Ini Jadi Sasaran Favorit Para Begal

Bagaikan demam kerikil akik, belakangan ini fenomena pembegalan – terutama sepeda motor – tiba-tiba menjadi “meledak”. Tidak hanya terjadi di ibu kota Jakarta dan sekitarnya yang menjadi titik awalnya, ketika ini kasus-kasus pembegalan sudah menyebar terjadi dimana-mana, termasuk di tempat atau kota-kota kecil yang selama ini kondusif dari masalah pembegalan.
Bahkan di Kudus Jawa Tengah, agresi begal tetap nekat dilakukan meski di kampung, meski karenanya sanggup digagalkan.

Jika melihat kejadian-kejadian pembegalan tersebut, agresi begal seperti tanpa pilih-pilih. Tua muda, laki-laki ataupun wanita, siapapun akan disikatnya, selama ada kesempatan.
Hal ini memang ada benarnya.
Sebab sebagaimana kata Bang Napi, bahwa sebuah kejahatan itu sanggup terjadi, tidak hanya sebab adanya niat, tetapi juga sebab adanya kesempatan.

Namun kalau ditelusuri secara lebih terperinci, menurut data dan keterangan pihak Kepolisian, meski agresi begal ini tampaknya terlihat acak dan ngawur, namun intinya mereka juga mempunyai sebuah teladan dan sasaran sasaran tertentu. Istilahnya sasaran sasaran favorit.
Jika anda mempunyai makanan favorit, para begal juga mempunyai orang-orang yang menjadi favorit untuk dijadikan sasaran sasaran agresi begalnya.

Siapa orang yang menjadi sasaran sasaran paling favorit para begal ?

Dari beberapa pembegal yang berhasil ditangkap oleh pihak kepolisian dan lalu dimintai keterangan, terungkap, siapa saja orang yang menjadi sasaran sasaran paling favorit agresi pembegalan.
Misalnya menurut keterangan dari kawanan pembegal yang biasa beraksi di tempat Serpong. Adalah Entis Sutrisna (25), dan Dede Suhendi (23) yang merupakan pembegal yang mengaku sudah puluhan kali merampas sepeda motor di tempat Jakarta Barat, yang pada karenanya berhasil diringkus oleh Tim Buser Polsek Serpong .

Dari keterangan begal kawakan ini terungkap bahwa sasaran paling favorit untuk dijadikan agresi begalnya yaitu para muda-mudi yang sedang berpacaran.

Karena itu menurut gosip ini hendaknya , terutama muda-mudi yang sedang berpacaran semoga lebih meningkatkan kewaspadaan dan lebih berhati-hati.
Berdasarkan gosip ini pula, pasangan yang sedang berpacaran hendaknya jangan pergi berdua-duaan di tempat-tempat yang sepi.
Sebab sudah menjadi belakang layar umum, semoga pacarannya tambah asyik masyuk, muda muda yang sedang berpacaran senangnya memang pada tempat-tempat yang sepi.
Selain itu akan lebih baik kalau tidak keluar rumah dan pulang pada larut malam, untuk menghindari dari sasaran pembegalan.

Dari keterangan dua begal yang berhasil ditangkap di atas hendaknya sanggup dijadikan pelajaran berharga. Sebab selain mempunyai modus dan sasaran tertentu, agresi para begal juga semakin sadis.
Mau lihat penangkapan begal sakti yang unik ? Lihat di bawah ini :

Sumber http://anekacarapraktis.blogspot.com